Cerpen
HAPPY READING
Alissa
& Adrian
Alissa Larasati adalah seorang siswi SMA. Ia baru saja
menginjakkan kakinya di kelas dua belas dua bulan lalu. Alissa adalah seseorang
yang cantik, berambut lurus sepunggung dan bermata bulat coklat. Alissa adalah
anak tunggak. Ia sangat menyayangi ibunya, Rasti, karena dia adalah keluarga
satu-satunya saat ini. Ayahnya meninggal pada saat dia berumur 10 tahun.
Adrian Maheswara,
seorang laki-laki SMA juga. Seangkatan dengan Alissa namun keduanya berbeda
kelas. Adrian dikenal cuek pada semua perempuan yang kebanyakan memujanya
karena ketampanannya. Namun, ia bisa menjadi sangat romantis pada perempuan
terdekatnya. Saat ini, kelemahannya ada di Alissa, perempuan kedua yang ia
sayangi setelah ibunya. Menurutnya, Alissa benar-benar mengingatkan padanya
akan seorang ibu yang ia sayangi.
~
“Lo pulang bareng siapa, Lis? ” tanya seorang perempuan
yang tidak lain adalah Kirana, sahabat Alissa.
“Gak tau. Lo duluan aja
gapapa. Ntar gue naik angkot aja.” balas Alissa sembari menyambar penghapus
papan tulis di meja guru.
“Mending lo bareng
Adrian aja deh. Daripada lo naik angkot susah nyarinya.” Saran Kirana pada
Alissa karena di jam-jam sore seperti ini angkot jarang lewat di depan sekolah.
“Gak deh. Ntar mama
marah lagi sama gue. Udah gak berani lagi sekarang gue.” Balas Alissa dengan
nada sedih.
“Gue udah janji buat gak
pacaran lagi, Ran.” Lanjutnya cemberut.
“Sorry, ya. Gue lupa.
Hehe.”
Kirana tahu kalau Rasti
– mama Alissa – telah melarang Alissa untuk pacaran semenjak ia menginjakkan
kaki di kelas dua belas ini. Dan Kirana tahu bagaimana perasaan Alissa yang
sebenarnya. Ia tahu Alissa sangat menyayangi Adrian walaupun kini ia harus
menjaga jarak dari Adrian karena orang tuanya yang menuntutnya untuk fokus dulu
ke pendidikan. Terpaksa ia harus mengakhiri hubungannya kalau tidak ingin
mengecewakan Rasti.
“Yaudah, lo yang sabar
ya. Gue duluan.” Pamit Kirana. Ia pun langsung keluar kelas meninggalkan Alissa
yang masih menghapus papan tulis karena ia kebagian piket hari ini.
Alissa menghela nafas pelan
setelah menyelesaikan tugasnya. Ia segera menyambar tas biru dongker miliknya
dan menggendongnya. Ia pun melangkahkan kakinya keluar kelas berniat untuk
pulang. Namun, tiba-tiba langkahnya terhenti karena seorang laki-laki yang baru
saja mampir kepikirannya menghalanginya di depan pintu kelas.
“Rian?” tanya Alissa
heran dan sedikit canggung.
“Ayo, pulang. Aku nungguin
kamu, Lissa.” Ucap laki-laki itu santai. Matanya yang teduh menatap manik mata
Alissa tulus, membuat Alissa mengalihkan pandangannya ke ponsel yang berada
digenggamannya.
Tidak.
Jangan menatapku seperti itu Adrian.
“Gak, Yan. Aku pulang
sendiri aja.” Balas Alissa asal tanpa menatap mata Adrian. Alissa melanjutkan
jalannya sembari mengutak-atik ponselnya asal untuk sekedar menghindari Adrian.
“Alissa, tunggu.” ucap laki-laki
itu sembari ikut berjalan di belakang Alissa. Alissa masih tidak menggubrisnya.
Pikirannya kacau. Setiap berada di dekat Adrian, pikirannya melayang ke
perkataan mamanya.
“Lis, kamu belum jelasin
ke aku.” ucap Adrian lagi.
Alissa masih tidak
menggubrisnya dan tetap berjalan menuruni tangga lantai dua. Matanya memanas
dan tanpa sadar sudah ada bulir bening di pelupuk matanya. Ia menghentikan
langkahnya begitu juga dengan Adrian yang berhenti tepat satu meter dibelakang
Alissa.
Keduanya masih terdiam.
Adrian masih menunggu Alissa berucap dan Alissa masih berusaha menahan agar
tidak menangis saat ini karena memang ia seseorang yang bisa dibilang cengeng.
“Liss?” Panggil Adrian
pelan.
“Rian... Hiks.” Gagal
sudah usaha Alissa untuk menahan air matanya. Sekarang ia malah menangis
sembari menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Ia menangis
sejadi-jadinya. Mungkin ini memang waktu yang pas untuk mengatakan yang
sebenarnya pada Adrian. Alissa masih berdiri membelakangi Adrian yang sedetik
kemudian langsung berpindah tempat tepat di depan Alissa saat mendengar isakkan
wanitanya.
“Lo kenapa? Apa gue
-...”
“Rian... mama ngelarang
aku buat pacaran dulu, Yan. Hiks.” Alissa memotong perkataan Adrian.
“Maafin aku. Hiks.
Seharusnya aku udah bilang kemarin-kemarin kalau aku gak dibolehin pacaran
dulu.”
Adrian pun sedikit tak
percaya dengan perkataan Alissa. Hatinya hancur. Kenapa? Padahal Rasti selalu
bersikap ramah padanya selama ini. Tapi kenapa sekarang ia melarang hubungannya
dengan Alissa? Apa ada yang salah dengan sikapnya selama ini? Pikiran Adrian
masih bertanya-tanya tak menentu.
“... Mama pengen aku
fokus belajar buat UN dulu, Yan.”
Adrian menghela nafas
pelan. Ternyata bukan masalah besar yang membuat Rasti melarang Alissa untuk
pacaran. Adrian segera mengangkat kepala Alissa yang masih menunduk dengan
kedua tangannya lalu mengusap air mata yang mengalir dari kedua pipi Alissa.
Adrian tersenyum tetapi hatinya sedikit tak rela alias kecewa.
“Seharusnya kamu
langsung bilang ke aku kalau alasan kamu mutusin aku kemarin itu karena mama
kamu.” Ucap Adrian lembut.
“Aku bisa ngertiin
kok.” lanjut Adrian melihat Alissa yang masih menatapnya dengan tatapan sendu.
Alissa mengusap pipinya
lalu kembali menatap mata teduh Adrian yang tak manampakan emosi sedikit pun.
“Ka-kamu gak marah,
kan? Aku gak bisa nolak permintaan mama.”
“Emm, sejujurnya aku
kecewa sih.” Ucap Adrian datar yang membuat Alissa menggigit bibir bawahnya dan
menunduk.
“Maaf.” Ucap Alissa.
Adrian tersenyum kecil
dan mengucap kepala Alissa.
“Tapi aku gak marah kok.
Karena mama kamu pasti juga punya niat baik buat ngelakuin itu.”
“Toh, kita bisa deket
kok walaupun gak pacaran. Aku percaya, hati kamu masih buat aku walaupun kita
udahan. Ya kan?” Lanjut Adrian.
Alissa tersenyum dan
mengangguk. Ia bahagia karena Adrian bisa mengerti padanya. Ia sempat mengira
Adrian akan marah padanya karena tiba-tiba meminta putus, tapi ini malah
sebaliknya. Adrian dengan wajah tampan nya hanya menunjukkan senyumnya yang
kadang membuat Alissa jengkel karena siswi-siswi disekolahnya akan memandangnya
juga tanpa berkedip.
“Yaudah. Sekarang aku anter kamu pulang kali
ini.”
Alissa sedikit ragu untuk
mengiyakan.
“Tapi mama nan-..”
“Nanti biar aku yang
jelasin ke tante Rasti.”
Mereka pun segera
melangkahkan kakinya menuju parkiran. Dalam hati, Adrian sedih. Ia sebenarnya
masih tidak rela untuk melepas status pacaran dengan Alissa. Tapi apa boleh buat,
ia tahu bagaimana Alissa sangat menyayangi keluarga satu-satunya yang ia punya
saat ini, yaitu Rasti. Ia juga tak boleh memaksakan kehendak. Biarpun dia bisa
dibilang seorang bad boy, ia juga menghargai perempuan.
~
Adrian duduk dibangku meja belajarnya. Ia tampak sedang
sibuk mengetik sesuatu yang tidak lain adalah tugas sekolah dilaptop miliknya.
Sesekali ia membenarkan letak kacamata minusnya yang hanya ia pakai sesekali.
“Rian, nih Mama buatin
susu coklat.” Seorang wanita paruh baya masuk ke dalam kamarnya sembari membawa
nampan berisi segelas susu. Adrian sama sekali tidak menggubrisnya.
“Makasih.” ucap Adrian
datar saat perempuan itu meletakkan segelas susu di nakas sampingnya.
“Taruh aja di situ.”
Lanjutnya.
Susan segera meletakkan
nampan berisi segelas susu itu ditempat yang dimaksud Adrian.
“Oiya,
Alissa besok rencana mau lanjut kemana, Dri?” tanya Susan pada anak bungsunya yang
masih menghiraukannya itu. Ia kemudian mendudukan diri dipinggiran kasur milik
Adrian yang berada disamping kanan Adrian duduk sekarang.
“Dia
pengennya ke UI. Dulu sempet cerita biar bisa barengan kuliahnya nanti.”
“Ooo..
bagus dong.”
Adrian
menghentikan aktivitas mengetiknya. Ia melepas kacamatanya dan memijit kepala
nya pelan. Ia tampak lelah, apalagi Susan mengingatkannya dengan Alissa yang
masih membuatnya sedikit kecewa. Melihat Adrian yang nampak murung, Susan
angkat bicara.
“Kenapa,
Dri?”
“Gak
papa.” Ucap Adrian datar.
Adrian
bangkit dari duduknya dan beranjak pergi keluar kamar sembari menyambar jaket
hitam miliknya.
“Saya
keluar bentar.”
Susan
menghela nafas. Ia yakin, pasti saat ini anak bungsunya itu sedang ada masalah.
Walaupun bukan anak kandung, Susan tetap menyayanginya walaupun tidak jarang Adrian
masih bertingkah seolah-seolah ia adalah orang asing baginya. Ia segera
mengambil lagi segelas susu yang hanya diminum setengah oleh Adrian dan
membawanya ke dapur.
Adrian
memakai helmnya dan segera menyalakan motornya. Saat ini hatinya sedang kacau.
Biasanya ia akan pergi ke rumah Alissa untuk sekedar mengobrol walaupun alasan
awalnya belajar bersama. Namun setelah perkataan pada Rasti tadi siang, ia
tidak berani untuk menemui Alissa saat ini karena sama saja ia mengingkari
janjinya bahwa ia akan berusaha untuk tidak terlalu sering datang karena Rasti
pasti akan kecewa padanya.
“Hei.
Adrian. Lama gak ketemu ya?”
Ucap
seorang bartender suatu cafe setelah Adrian melangkahkan kakinya masuk. Adrian
mengangguk lalu segera duduk di bangku yang kosong dan memesan minuman. Sembari
menunggu minumanya datang, ia mengetikan sesuatu yang di ponselnya.
Adrian
M : Hola Cafe cepet. Gue tunggu.
Tak
lama ponselnya bergetar menandakan adanya balasan dari seseorang.
Arjuna
P : Yaelah, baru aja mau nugas, Yan.
Adrian
M : CEPET!
Arjuna
P : Siap!
Adrian
meneguk moccachino-nya sembari membuka halaman instagramnya. Tak lama, Arjuna
datang lalu duduk di depan Adrian setelah memesan minumnya terlebih dahulu.
“Kenapa
lo? Tumben kesini. Biasanya kan malem minggu gini lo jalan sama Alissa.” Tanya
Arjuna panjang kali lebar membuat Adrian berdecak.
“Gue
udahan.” Balas Adrian singkat namun bisa membuat Arjuna terkejut.
“Demi
apa?! Alhamdulillah, ini kesempatan gue buat deketin si cantik Lissa sekarang.”
Arjuna
langsung terdiam melihat pelototan dari Adrian. Tentu saja ia hanya bermaksud
menggoda tadi. Namun ternyata Adrian sedang tidak ingin bercanda sekarang.
“Seloww,
bro. Seloww.” Ucap Arjuna.
“Lagian,
lo kenapa bisa putus?”lanjut Arjuna.
Adrian
pun menceritakan kenapa ia putus dengan Alissa. Arjuna pun hanya
mengangguk-angguk mendengar cerita Adrian. Menurutnya memang selama ini Adrian
sering mengajak Alissa keluar. Ya walaupun keluar mereka hanya untuk
berjalan-jalan ataupun makan layaknya sepasang remaja yang masih
senang-senangnya dengan cinta. Namun, mungkin itu tanpa sengaja membuat Rasti
khawatir akan pendidikan Alissa maupun prestasi Alissa.
“Ya
udah. Lo juga fokus belajar aja dulu. Lagian lo sih yang terlalu sering ngajak
keluar Alissa, jadi kan malah gak dibolehin pacaran kan sekarang?”
Adrian
meresapi kata-kata Arjuna yang memang ada benarnya. Mungkin ia terlalu sering
mengajak Alissa keluar sehingga membuat waktu belajarnya berkurang.
“Jalanin
dulu ae. Lo juga masih SMA. Jadi jangan terlalu serius mikirin cinta-cintaan.
Kalo jodoh mah gak kemana.”
Adrian
menghela nafas. Entah kenapa ia sulit sekali melepaskan Alissa. Walaupun
sebenarnya mereka masih bisa berdekatan, tetapi dengan berakhirnya hubungan
mereka membuat Adrian berfikir kalau saat ini keduanya terpisah oleh jarak yang
tidak nampak. Maklum saja, baik Adrian maupun Alissa baru pertama kali menjalin
hubungan yang bernama pacaran.
“Lo
bener, Jun. Apa mungkin karena baru kali ini juga gue serius sama cewek
ya?”tanya Adrian menanggapi Arjuna.
“Mungkin.”
~
Hari-hari Alissa sudah
jarang ia lewati bersama dengan Adrian. Mereka hanya sekedar bertemu dan saling
menyapa. Namun, sikap Adrian pun membuat Alissa khawatir. Seiring berjalannya
waktu, Adrian semakin jarang untuk sekedar memberi kabar baik langsung maupun
melalui pesan. Terakhir seminggu yang lalu, Adrian mengabarinya bahwa ia akan
keluar kota untuk menjenguk neneknya yang dirawat dirumah sakit, tetapi setelah
itu, sampai sekarang Adrian masih belum menghubunginya lagi. Padahal Adrian
tampak baik-baik saja saat mereka bertemu.
Apa Adrian udah lupa sama aku?
“Kok
gak dimakan baksonya?”
Suara
Kirana membuyarkan lamunannya.
“Eh?”
“Hmmm.
Tuh kan, lo bengong lagi.”
Bodohnya
Alissa, saat ini ia sedang berada dikantin. Matanya tadi sempat bertemu dengan
mata teduh Adrian yang sangat ia rindukan yang menjadi penyebab dirinya melamun
baru saja.
“Lo
kenapa? Mikirin Adrian lagi?” tanya Kirana pelan.
Alissa
mengangguk sembari mulai menyuapkan bakso ke mulutnya. Biar bagaimanapun ia
tidak bisa berbohong dengan sahabat terdekatnya itu. Berbohong pun
ujung-ujungnya akan ketahuan. Kirana pun menghela nafas. Diedarkan padangannya
ke seluruh penjuru kantin. Matanya berhenti pada seorang laki-laki yang duduk
dibangku paling pojok yang tidak lain adalah Adrian yang sedari tadi masih
menikmati waktunya bersama Arjuna dan lain-lain. Namun, detik selanjutnya ia
lebih memilih untuk menghabiskan baksonya setelah menyerut es tehnya sedikit
dengan malas.
“Adrian
Maheswara!!”
Alissa
yang semula fokus dengan makanannya melotot karena Kirana berteriak memanggil
nama Adrian. Entah kenapa ia menjadi gugup saat Adrian melangkah ke bangku
tempatnya duduk sekarang. Padahal, sebelumnya ia biasa saja. Tapi mengapa
sekarang ia gugup pada satu orang ini?
“Kenapa
manggil-manggil gue?”
Kirana
tidak menjawab tetapi hanya menunjuk kearah Alissa yang masih melahap baksonya
dengan dagunya.
“Liss,
kenapa?” tanya Adrian yang sukses membuat Alissa gugup setengah mati. Ia masih
terdiam dengan mulut yang masih penuh dengan bakso.
Kenapa jadi canggung seperti ini.
“Eh?”
Alissa tiba-tiba menjadi cengo dan tak bisa berkata-kata.
“Ohh,
aku tahu. Aku juga kangen kamu kok.” jawab Adrian terlampau enteng membuat
Alissa mengerjap. Sedetik kemudian, ia melangkah dan duduk disamping Alissa.
Mata mereka masih saling menatap.
“Makanya
aku gak berani deket-deket sama kamu. Bawaannya pengen meluk mulu.” lanjut
Adrian sambil menunjukkan senyum tampannya dan membersihkan kecap yang menempel
di sudut bibir Alissa menggunakan tisu.
Lagi-lagi
Alissa masih terdiam lalu sedetik kemudian tersenyum. Kini, seluruh siswa
dipenjuru kantin terfokus pada mereka berdua begitu juga dengan Kirana yang
menjadi obat nyamuk diantara mereka.
“Aku
kira kamu berubah, Yan.” Ucap Alissa yang mendapat gelengan dan kekehan dari
Adrian.
“Oh
My God. Adrian!! Lo sweet banget..”ucap Kirana kagum tak perduli bahwa saat ini
ia menjadi obat nyamuk antara Alissa dan Adrian.
“Ya
udah. Gue pergi dulu ya.” lanjut Adrian langsung berdiri hendak meninggalkan
Alissa dan Kirana. Alissa pun hanya mengangguk. Ia lega, ternyata Adrian tidak
berubah.
“Jangan
lupa belajar ya, Liss.” Adrian berucap lagi mengakhiri perjumpaan mereka.
Alissa pun melanjutkan aktivitasnya yang sempat tertunda.
~
9
bulan kemudian.
“.....Sekian dan terima kasih.”
Prok...prok....prok...
Semua
siswa-siswi bersorak dan bertepuk tangan mendengar pidato singkat yang
dibawakan Adrian. Semuanya kagum dan tidak menyangka kalau Adrian bisa menjadi
siswa terbaik tahun ini. Berbeda saat sebelumnya, Adrian yang biasanya berada
diperingkat belasan, kini bisa menjadi siswa terbaik alias juara pertama yang
meraih nilai UN terbaik di SMA Padmawijaya. Sorak sorai tak henti-hentinya
keluar dari mulut para teman-teman tak terkecuali Alissa yang bertepuk tangan
bangga. Walaupun ia berada lima peringkat dibawah Adrian, ia sedikitpun tak
merasa iri karena memang ia akui Adrian adalah seseorang yang pintar namun
seringkali Adrian tak perduli dan tidak menyadarinya.
“Wahhh,
Rian hebat ya, Liss.” Ucap Kirana antusias.
Alissa
mengangguk. Disamping kanannya ada Kirana dan disebelah kirinya ada Rasti yang
juga bertepuk tangan bangga untuk Adrian. Tak lama Adrian turun dari paviliun
dan menyalami kedua orang tuanya yang berada di kursi depan. Ia mencium
punggung tangan ayahnya dan memeluknya erat. Padanganya bergeser ke seorang
perempuan disamping ayahnya yang tidak lain adalah ibu tirinya. Ia tersenyum
dan langsung memeluk perempuan itu.
Tak
berapa lama, acara wisuda pun berakhir meriah. Banyak yang sibuk berfoto-foto
dengan orang tua maupun dengan teman kelas dan teman-teman seangkatan sebelum
pulang.
“Mah, pah, Adrian nyamperin Alissa dulu ya.
Mama papa pulang duluan aja, Adrian bawa motor kok.” pamit Adrian pada kedua
orang tuanya yang hendak berjalan ke mobil. Mereka mengangguk mengiyakan
permintaan anak tunggalnya itu.
Adrian
segera berlari menghampiri Alissa yang masih berdiri memakai gaun putih selutut
yang nampak pas untuk dirinya didekat pintu masuk aula tempat acara wisuda
berlangsung.
“Alissa...”
panggil Adrian melihat Alissa yang masih fokus dengan ponselnya.
“Rian?”
Rian
mengatur nafasnya dan langsung menyapa Rasti yang ternyata sedang berada
disamping Alissa. Tak lupa Adrian mencium punggung tangan Rasti.
“Halo,
Tan.”
Rasti
tersenyum ramah sembari mengelus puncak kepala Adrian yang sudah ia anggap
sebagai anak sendiri sedari dulu.
“Kamu
hebat, Rian. Tante bangga sama kamu.”
“Hehe.
Makasih tante.” Ucap Adrian sembari menyengir.
“Emm,
Tan. Rian boleh gak pinjem gadisnya bentar?”
Rasti
mengangguk mengiyakan. Ia memutuskan untuk pulang terlebih dahulu setelah
Adrian berkata bahwa ia yang akan mengantar Alissa pulang nanti. Setelah Rasti
pergi, Adrian melirik Alissa yang masih melihat mamanya melangkah menjauh
sembari mengeluarkan sesuatu dari kantung jas nya.
“Ssttt...Sssttt”
Alissa
menoleh mendapati Adrian menyodorkan setangkai bunga mawar putih kesukaannya.
Ia pun meraih lalu menghirup wanginya.
“Makasih,
Rian.”
“Aku
yang seharusnya makasih...”
Alissa
masih terdiam tak mengerti sampai Adrian melanjutkan ucapannya.
“Makasih
karena udah percayain hati kamu ke aku selama ini.”
Alissa
memukul lengan Adrian pelan karena Adrian tersenyum jahil kearahnya yang sedang
tak kuasa menahan rona pipinya. Mereka berdua pun beranjak pergi. Berjalan
beriringan sembari tertawa bahagia bersama-sama.
TAMAT.
Nama : Riza Ivanka
Salmawati
Tempat, tanggal lahir : Klaten, 24 Desember 1999
Alamat : Ketandan, Demakijo,
Karangnongko, Klaten
Hobi : Renang, menulis,
baca wattpad, dll.
Instagram : @rizaivanka
Sekolah : SMA Negeri 1 Klaten
Tidak ada komentar:
Posting Komentar