Selasa, 20 Februari 2018

Cerpen Remaja : Alissa & Adrian - Riza Ivanka

Selasa, 20 Februari 2018
Cerpen
HAPPY READING 



Alissa & Adrian

            Alissa Larasati adalah seorang siswi SMA. Ia baru saja menginjakkan kakinya di kelas dua belas dua bulan lalu. Alissa adalah seseorang yang cantik, berambut lurus sepunggung dan bermata bulat coklat. Alissa adalah anak tunggak. Ia sangat menyayangi ibunya, Rasti, karena dia adalah keluarga satu-satunya saat ini. Ayahnya meninggal pada saat dia berumur 10 tahun.
Adrian Maheswara, seorang laki-laki SMA juga. Seangkatan dengan Alissa namun keduanya berbeda kelas. Adrian dikenal cuek pada semua perempuan yang kebanyakan memujanya karena ketampanannya. Namun, ia bisa menjadi sangat romantis pada perempuan terdekatnya. Saat ini, kelemahannya ada di Alissa, perempuan kedua yang ia sayangi setelah ibunya. Menurutnya, Alissa benar-benar mengingatkan padanya akan seorang ibu yang ia sayangi.
~
            “Lo pulang bareng siapa, Lis? ” tanya seorang perempuan yang tidak lain adalah Kirana, sahabat Alissa.
“Gak tau. Lo duluan aja gapapa. Ntar gue naik angkot aja.” balas Alissa sembari menyambar penghapus papan tulis di meja guru.
“Mending lo bareng Adrian aja deh. Daripada lo naik angkot susah nyarinya.” Saran Kirana pada Alissa karena di jam-jam sore seperti ini angkot jarang lewat di depan sekolah.
“Gak deh. Ntar mama marah lagi sama gue. Udah gak berani lagi sekarang gue.” Balas Alissa dengan nada sedih.
“Gue udah janji buat gak pacaran lagi, Ran.” Lanjutnya cemberut.
“Sorry, ya. Gue lupa. Hehe.”
Kirana tahu kalau Rasti – mama Alissa – telah melarang Alissa untuk pacaran semenjak ia menginjakkan kaki di kelas dua belas ini. Dan Kirana tahu bagaimana perasaan Alissa yang sebenarnya. Ia tahu Alissa sangat menyayangi Adrian walaupun kini ia harus menjaga jarak dari Adrian karena orang tuanya yang menuntutnya untuk fokus dulu ke pendidikan. Terpaksa ia harus mengakhiri hubungannya kalau tidak ingin mengecewakan Rasti.
“Yaudah, lo yang sabar ya. Gue duluan.” Pamit Kirana. Ia pun langsung keluar kelas meninggalkan Alissa yang masih menghapus papan tulis karena ia kebagian piket hari ini.
Alissa menghela nafas pelan setelah menyelesaikan tugasnya. Ia segera menyambar tas biru dongker miliknya dan menggendongnya. Ia pun melangkahkan kakinya keluar kelas berniat untuk pulang. Namun, tiba-tiba langkahnya terhenti karena seorang laki-laki yang baru saja mampir kepikirannya menghalanginya di depan pintu kelas.
“Rian?” tanya Alissa heran dan sedikit canggung.
“Ayo, pulang. Aku nungguin kamu, Lissa.” Ucap laki-laki itu santai. Matanya yang teduh menatap manik mata Alissa tulus, membuat Alissa mengalihkan pandangannya ke ponsel yang berada digenggamannya.
Tidak. Jangan menatapku seperti itu Adrian.
“Gak, Yan. Aku pulang sendiri aja.” Balas Alissa asal tanpa menatap mata Adrian. Alissa melanjutkan jalannya sembari mengutak-atik ponselnya asal untuk sekedar menghindari Adrian.
“Alissa, tunggu.” ucap laki-laki itu sembari ikut berjalan di belakang Alissa. Alissa masih tidak menggubrisnya. Pikirannya kacau. Setiap berada di dekat Adrian, pikirannya melayang ke perkataan mamanya.
“Lis, kamu belum jelasin ke aku.” ucap Adrian lagi.
Alissa masih tidak menggubrisnya dan tetap berjalan menuruni tangga lantai dua. Matanya memanas dan tanpa sadar sudah ada bulir bening di pelupuk matanya. Ia menghentikan langkahnya begitu juga dengan Adrian yang berhenti tepat satu meter dibelakang Alissa.
Keduanya masih terdiam. Adrian masih menunggu Alissa berucap dan Alissa masih berusaha menahan agar tidak menangis saat ini karena memang ia seseorang yang bisa dibilang cengeng.
“Liss?” Panggil Adrian pelan.
“Rian... Hiks.” Gagal sudah usaha Alissa untuk menahan air matanya. Sekarang ia malah menangis sembari menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Ia menangis sejadi-jadinya. Mungkin ini memang waktu yang pas untuk mengatakan yang sebenarnya pada Adrian. Alissa masih berdiri membelakangi Adrian yang sedetik kemudian langsung berpindah tempat tepat di depan Alissa saat mendengar isakkan wanitanya.
“Lo kenapa? Apa gue -...”
“Rian... mama ngelarang aku buat pacaran dulu, Yan. Hiks.” Alissa memotong perkataan Adrian.
“Maafin aku. Hiks. Seharusnya aku udah bilang kemarin-kemarin kalau aku gak dibolehin pacaran dulu.”
Adrian pun sedikit tak percaya dengan perkataan Alissa. Hatinya hancur. Kenapa? Padahal Rasti selalu bersikap ramah padanya selama ini. Tapi kenapa sekarang ia melarang hubungannya dengan Alissa? Apa ada yang salah dengan sikapnya selama ini? Pikiran Adrian masih bertanya-tanya tak menentu.
“... Mama pengen aku fokus belajar buat UN dulu, Yan.”
Adrian menghela nafas pelan. Ternyata bukan masalah besar yang membuat Rasti melarang Alissa untuk pacaran. Adrian segera mengangkat kepala Alissa yang masih menunduk dengan kedua tangannya lalu mengusap air mata yang mengalir dari kedua pipi Alissa. Adrian tersenyum tetapi hatinya sedikit tak rela alias kecewa.
“Seharusnya kamu langsung bilang ke aku kalau alasan kamu mutusin aku kemarin itu karena mama kamu.” Ucap Adrian lembut.
“Aku bisa ngertiin kok.” lanjut Adrian melihat Alissa yang masih menatapnya dengan tatapan sendu.
Alissa mengusap pipinya lalu kembali menatap mata teduh Adrian yang tak manampakan emosi sedikit pun.
“Ka-kamu gak marah, kan? Aku gak bisa nolak permintaan mama.”
“Emm, sejujurnya aku kecewa sih.” Ucap Adrian datar yang membuat Alissa menggigit bibir bawahnya dan menunduk.
“Maaf.” Ucap Alissa.
Adrian tersenyum kecil dan mengucap kepala Alissa.
“Tapi aku gak marah kok. Karena mama kamu pasti juga punya niat baik buat ngelakuin itu.”
“Toh, kita bisa deket kok walaupun gak pacaran. Aku percaya, hati kamu masih buat aku walaupun kita udahan. Ya kan?” Lanjut Adrian.
Alissa tersenyum dan mengangguk. Ia bahagia karena Adrian bisa mengerti padanya. Ia sempat mengira Adrian akan marah padanya karena tiba-tiba meminta putus, tapi ini malah sebaliknya. Adrian dengan wajah tampan nya hanya menunjukkan senyumnya yang kadang membuat Alissa jengkel karena siswi-siswi disekolahnya akan memandangnya juga tanpa berkedip.
 “Yaudah. Sekarang aku anter kamu pulang kali ini.”
Alissa sedikit ragu untuk mengiyakan.
“Tapi mama nan-..”
“Nanti biar aku yang jelasin ke tante Rasti.”
Mereka pun segera melangkahkan kakinya menuju parkiran. Dalam hati, Adrian sedih. Ia sebenarnya masih tidak rela untuk melepas status pacaran dengan Alissa. Tapi apa boleh buat, ia tahu bagaimana Alissa sangat menyayangi keluarga satu-satunya yang ia punya saat ini, yaitu Rasti. Ia juga tak boleh memaksakan kehendak. Biarpun dia bisa dibilang seorang bad boy, ia juga menghargai perempuan.
~
            Adrian duduk dibangku meja belajarnya. Ia tampak sedang sibuk mengetik sesuatu yang tidak lain adalah tugas sekolah dilaptop miliknya. Sesekali ia membenarkan letak kacamata minusnya yang hanya ia pakai sesekali.
“Rian, nih Mama buatin susu coklat.” Seorang wanita paruh baya masuk ke dalam kamarnya sembari membawa nampan berisi segelas susu. Adrian sama sekali tidak menggubrisnya.
“Makasih.” ucap Adrian datar saat perempuan itu meletakkan segelas susu di nakas sampingnya.
“Taruh aja di situ.” Lanjutnya.
Susan segera meletakkan nampan berisi segelas susu itu ditempat yang dimaksud Adrian.
“Oiya, Alissa besok rencana mau lanjut kemana, Dri?” tanya Susan pada anak bungsunya yang masih menghiraukannya itu. Ia kemudian mendudukan diri dipinggiran kasur milik Adrian yang berada disamping kanan Adrian duduk sekarang.
“Dia pengennya ke UI. Dulu sempet cerita biar bisa barengan kuliahnya nanti.”
“Ooo.. bagus dong.”
Adrian menghentikan aktivitas mengetiknya. Ia melepas kacamatanya dan memijit kepala nya pelan. Ia tampak lelah, apalagi Susan mengingatkannya dengan Alissa yang masih membuatnya sedikit kecewa. Melihat Adrian yang nampak murung, Susan angkat bicara.
“Kenapa, Dri?”
“Gak papa.” Ucap Adrian datar.
Adrian bangkit dari duduknya dan beranjak pergi keluar kamar sembari menyambar jaket hitam miliknya.
“Saya keluar bentar.”
Susan menghela nafas. Ia yakin, pasti saat ini anak bungsunya itu sedang ada masalah. Walaupun bukan anak kandung, Susan tetap menyayanginya walaupun tidak jarang Adrian masih bertingkah seolah-seolah ia adalah orang asing baginya. Ia segera mengambil lagi segelas susu yang hanya diminum setengah oleh Adrian dan membawanya ke dapur.
Adrian memakai helmnya dan segera menyalakan motornya. Saat ini hatinya sedang kacau. Biasanya ia akan pergi ke rumah Alissa untuk sekedar mengobrol walaupun alasan awalnya belajar bersama. Namun setelah perkataan pada Rasti tadi siang, ia tidak berani untuk menemui Alissa saat ini karena sama saja ia mengingkari janjinya bahwa ia akan berusaha untuk tidak terlalu sering datang karena Rasti pasti akan kecewa padanya.
“Hei. Adrian. Lama gak ketemu ya?”
Ucap seorang bartender suatu cafe setelah Adrian melangkahkan kakinya masuk. Adrian mengangguk lalu segera duduk di bangku yang kosong dan memesan minuman. Sembari menunggu minumanya datang, ia mengetikan sesuatu yang di ponselnya.
Adrian M : Hola Cafe cepet. Gue tunggu.
Tak lama ponselnya bergetar menandakan adanya balasan dari seseorang.
Arjuna P : Yaelah, baru aja mau nugas, Yan.
Adrian M : CEPET!
Arjuna P : Siap!
Adrian meneguk moccachino-nya sembari membuka halaman instagramnya. Tak lama, Arjuna datang lalu duduk di depan Adrian setelah memesan minumnya terlebih dahulu.
“Kenapa lo? Tumben kesini. Biasanya kan malem minggu gini lo jalan sama Alissa.” Tanya Arjuna panjang kali lebar membuat Adrian berdecak.
“Gue udahan.” Balas Adrian singkat namun bisa membuat Arjuna terkejut.
“Demi apa?! Alhamdulillah, ini kesempatan gue buat deketin si cantik Lissa sekarang.”
Arjuna langsung terdiam melihat pelototan dari Adrian. Tentu saja ia hanya bermaksud menggoda tadi. Namun ternyata Adrian sedang tidak ingin bercanda sekarang.
“Seloww, bro. Seloww.” Ucap Arjuna.
“Lagian, lo kenapa bisa putus?”lanjut Arjuna.
Adrian pun menceritakan kenapa ia putus dengan Alissa. Arjuna pun hanya mengangguk-angguk mendengar cerita Adrian. Menurutnya memang selama ini Adrian sering mengajak Alissa keluar. Ya walaupun keluar mereka hanya untuk berjalan-jalan ataupun makan layaknya sepasang remaja yang masih senang-senangnya dengan cinta. Namun, mungkin itu tanpa sengaja membuat Rasti khawatir akan pendidikan Alissa maupun prestasi Alissa.
“Ya udah. Lo juga fokus belajar aja dulu. Lagian lo sih yang terlalu sering ngajak keluar Alissa, jadi kan malah gak dibolehin pacaran kan sekarang?”
Adrian meresapi kata-kata Arjuna yang memang ada benarnya. Mungkin ia terlalu sering mengajak Alissa keluar sehingga membuat waktu belajarnya berkurang.
“Jalanin dulu ae. Lo juga masih SMA. Jadi jangan terlalu serius mikirin cinta-cintaan. Kalo jodoh mah gak kemana.”
Adrian menghela nafas. Entah kenapa ia sulit sekali melepaskan Alissa. Walaupun sebenarnya mereka masih bisa berdekatan, tetapi dengan berakhirnya hubungan mereka membuat Adrian berfikir kalau saat ini keduanya terpisah oleh jarak yang tidak nampak. Maklum saja, baik Adrian maupun Alissa baru pertama kali menjalin hubungan yang bernama pacaran.
“Lo bener, Jun. Apa mungkin karena baru kali ini juga gue serius sama cewek ya?”tanya Adrian menanggapi Arjuna.
“Mungkin.”
~
           Hari-hari Alissa sudah jarang ia lewati bersama dengan Adrian. Mereka hanya sekedar bertemu dan saling menyapa. Namun, sikap Adrian pun membuat Alissa khawatir. Seiring berjalannya waktu, Adrian semakin jarang untuk sekedar memberi kabar baik langsung maupun melalui pesan. Terakhir seminggu yang lalu, Adrian mengabarinya bahwa ia akan keluar kota untuk menjenguk neneknya yang dirawat dirumah sakit, tetapi setelah itu, sampai sekarang Adrian masih belum menghubunginya lagi. Padahal Adrian tampak baik-baik saja saat mereka bertemu.
Apa Adrian udah lupa sama aku?
“Kok gak dimakan baksonya?”
Suara Kirana membuyarkan lamunannya.
“Eh?”
“Hmmm. Tuh kan, lo bengong lagi.”
Bodohnya Alissa, saat ini ia sedang berada dikantin. Matanya tadi sempat bertemu dengan mata teduh Adrian yang sangat ia rindukan yang menjadi penyebab dirinya melamun baru saja.
“Lo kenapa? Mikirin Adrian lagi?” tanya Kirana pelan.
Alissa mengangguk sembari mulai menyuapkan bakso ke mulutnya. Biar bagaimanapun ia tidak bisa berbohong dengan sahabat terdekatnya itu. Berbohong pun ujung-ujungnya akan ketahuan. Kirana pun menghela nafas. Diedarkan padangannya ke seluruh penjuru kantin. Matanya berhenti pada seorang laki-laki yang duduk dibangku paling pojok yang tidak lain adalah Adrian yang sedari tadi masih menikmati waktunya bersama Arjuna dan lain-lain. Namun, detik selanjutnya ia lebih memilih untuk menghabiskan baksonya setelah menyerut es tehnya sedikit dengan malas.
“Adrian Maheswara!!”
Alissa yang semula fokus dengan makanannya melotot karena Kirana berteriak memanggil nama Adrian. Entah kenapa ia menjadi gugup saat Adrian melangkah ke bangku tempatnya duduk sekarang. Padahal, sebelumnya ia biasa saja. Tapi mengapa sekarang ia gugup pada satu orang ini?
“Kenapa manggil-manggil gue?”
Kirana tidak menjawab tetapi hanya menunjuk kearah Alissa yang masih melahap baksonya dengan dagunya.
“Liss, kenapa?” tanya Adrian yang sukses membuat Alissa gugup setengah mati. Ia masih terdiam dengan mulut yang masih penuh dengan bakso.
Kenapa jadi canggung seperti ini.
“Eh?” Alissa tiba-tiba menjadi cengo dan tak bisa berkata-kata.
“Ohh, aku tahu. Aku juga kangen kamu kok.” jawab Adrian terlampau enteng membuat Alissa mengerjap. Sedetik kemudian, ia melangkah dan duduk disamping Alissa. Mata mereka masih saling menatap.
“Makanya aku gak berani deket-deket sama kamu. Bawaannya pengen meluk mulu.” lanjut Adrian sambil menunjukkan senyum tampannya dan membersihkan kecap yang menempel di sudut bibir Alissa menggunakan tisu.
Lagi-lagi Alissa masih terdiam lalu sedetik kemudian tersenyum. Kini, seluruh siswa dipenjuru kantin terfokus pada mereka berdua begitu juga dengan Kirana yang menjadi obat nyamuk diantara mereka.
“Aku kira kamu berubah, Yan.” Ucap Alissa yang mendapat gelengan dan kekehan dari Adrian.
“Oh My God. Adrian!! Lo sweet banget..”ucap Kirana kagum tak perduli bahwa saat ini ia menjadi obat nyamuk antara Alissa dan Adrian.
“Ya udah. Gue pergi dulu ya.” lanjut Adrian langsung berdiri hendak meninggalkan Alissa dan Kirana. Alissa pun hanya mengangguk. Ia lega, ternyata Adrian tidak berubah.
“Jangan lupa belajar ya, Liss.” Adrian berucap lagi mengakhiri perjumpaan mereka. Alissa pun melanjutkan aktivitasnya yang sempat tertunda.
~
9 bulan kemudian.
 “.....Sekian dan terima kasih.”
            Prok...prok....prok...
Semua siswa-siswi bersorak dan bertepuk tangan mendengar pidato singkat yang dibawakan Adrian. Semuanya kagum dan tidak menyangka kalau Adrian bisa menjadi siswa terbaik tahun ini. Berbeda saat sebelumnya, Adrian yang biasanya berada diperingkat belasan, kini bisa menjadi siswa terbaik alias juara pertama yang meraih nilai UN terbaik di SMA Padmawijaya. Sorak sorai tak henti-hentinya keluar dari mulut para teman-teman tak terkecuali Alissa yang bertepuk tangan bangga. Walaupun ia berada lima peringkat dibawah Adrian, ia sedikitpun tak merasa iri karena memang ia akui Adrian adalah seseorang yang pintar namun seringkali Adrian tak perduli dan tidak menyadarinya.
“Wahhh, Rian hebat ya, Liss.” Ucap Kirana antusias.
Alissa mengangguk. Disamping kanannya ada Kirana dan disebelah kirinya ada Rasti yang juga bertepuk tangan bangga untuk Adrian. Tak lama Adrian turun dari paviliun dan menyalami kedua orang tuanya yang berada di kursi depan. Ia mencium punggung tangan ayahnya dan memeluknya erat. Padanganya bergeser ke seorang perempuan disamping ayahnya yang tidak lain adalah ibu tirinya. Ia tersenyum dan langsung memeluk perempuan itu.
Tak berapa lama, acara wisuda pun berakhir meriah. Banyak yang sibuk berfoto-foto dengan orang tua maupun dengan teman kelas dan teman-teman seangkatan sebelum pulang.
 “Mah, pah, Adrian nyamperin Alissa dulu ya. Mama papa pulang duluan aja, Adrian bawa motor kok.” pamit Adrian pada kedua orang tuanya yang hendak berjalan ke mobil. Mereka mengangguk mengiyakan permintaan anak tunggalnya itu.
Adrian segera berlari menghampiri Alissa yang masih berdiri memakai gaun putih selutut yang nampak pas untuk dirinya didekat pintu masuk aula tempat acara wisuda berlangsung.
“Alissa...” panggil Adrian melihat Alissa yang masih fokus dengan ponselnya.
“Rian?”
Rian mengatur nafasnya dan langsung menyapa Rasti yang ternyata sedang berada disamping Alissa. Tak lupa Adrian mencium punggung tangan Rasti.
“Halo, Tan.”
Rasti tersenyum ramah sembari mengelus puncak kepala Adrian yang sudah ia anggap sebagai anak sendiri sedari dulu.
“Kamu hebat, Rian. Tante bangga sama kamu.”
“Hehe. Makasih tante.” Ucap Adrian sembari menyengir.
“Emm, Tan. Rian boleh gak pinjem gadisnya bentar?”
Rasti mengangguk mengiyakan. Ia memutuskan untuk pulang terlebih dahulu setelah Adrian berkata bahwa ia yang akan mengantar Alissa pulang nanti. Setelah Rasti pergi, Adrian melirik Alissa yang masih melihat mamanya melangkah menjauh sembari mengeluarkan sesuatu dari kantung jas nya.
“Ssttt...Sssttt”
Alissa menoleh mendapati Adrian menyodorkan setangkai bunga mawar putih kesukaannya. Ia pun meraih lalu menghirup wanginya.
“Makasih, Rian.”
“Aku yang seharusnya makasih...”
Alissa masih terdiam tak mengerti sampai Adrian melanjutkan ucapannya.
“Makasih karena udah percayain hati kamu ke aku selama ini.”
Alissa memukul lengan Adrian pelan karena Adrian tersenyum jahil kearahnya yang sedang tak kuasa menahan rona pipinya. Mereka berdua pun beranjak pergi. Berjalan beriringan sembari tertawa bahagia bersama-sama.
TAMAT.



                 



Nama                           : Riza Ivanka Salmawati
Tempat, tanggal lahir   : Klaten, 24 Desember 1999
Alamat                         : Ketandan, Demakijo, Karangnongko, Klaten
Hobi                            : Renang, menulis, baca wattpad, dll.
Instagram                    : @rizaivanka
E-mail                          : ivankariza@gmail.com
Sekolah                        : SMA Negeri 1 Klaten
           

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Cerpen Remaja : Alissa & Adrian - Riza Ivanka

Selasa, 20 Februari 2018 Cerpen HAPPY READING  Alissa & Adrian             Alissa Larasati adalah seorang siswi SMA. Ia bar...